Tinggal lah seorang ayah dan anaknya
yang bernama andini dirumah yang kecil dan sangat sederhana. Sejak sepuluh tahun
lamanya di tinggal sang istri, andini adalah satu-satunya yang paling berharga
di mata ayahnya. Seluruh jiwa raga dipertaruhkan si ayah untuk bisa
menghidupkan, melindungi, membahagiakan aset
terakir berwujud manusia yang ia punya.
Ayahnya hanyalah penjual martabak
telor. Namun, ia berusaha sekuat tenaga agar bisa menyekolahkan andini di SMA
ternama. ayahnya selalu sisihkan laba usahanya untuk biaya sekolah andini.
Semua itu ia lakukan semata-mata hanya ingin membuat andini bahagia.
Setiap hari andini diantar ayahnya ke
sekolah dengan motor bebek tua. Ia merasa malu pada teman-temanya yang
rata-rata diantar dengan mobil pribadi. Terlebih karena ayahnya mempunyai cacat
fisik, si ayah gagu.
Setiap kali diantar, ia hanya mau
diturunkan di ujung jalan sekolah. wajahnya yang selalu asam ketika pamit
dengan ayahnya, selalu dibalas dengan senyuman. Sang ayah selalu memberikan motivasi
ketika andini hendak pamit dengan bahasa tubuh. Namun, andini selalu
mangacuhkan lalu meninggalkanya.
Apapun perlakuan tidak suka dari
andini terhadap si ayah, ia hanya bisa berlapang dada dan berusaha mengerti apa
yang andini mau. Hingga pada akirnya, andini hanya ingin diantar kesekolah, dia
tak mau dijemput. Si ayah hanya bisa memaklumi. Karena pada saat dijemput, saat
itu lah teman-teman andini keluar dari sekolah. Andini tak mau teman-temanya
tahu tentang kondisi fisik ayahnya..
Si ayah selalu mengkawatirkan andini
ketika mengetahui bahwa saat itu semestinya jam pelajaran usai dan andini
pulang kerumah. Dan ia selalu menutup kiosnya lebih awal, karena ingin
menyambut andini di rumah. Menyiapkan makanan lalu berdoa agar andini bisa pulang
tepat waktu.
Di sekolah, andini termasuk siswi
yang cantik. Banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya. Hal ini sangat
dijadikan beban andini di sekolah. Karena ia takut pamornya di sekolah turun hanya
karena ayahnya yang cacat. Terlebih, banyak teman perempuan andini yang tak
suka padanya karena ia begitu digemari oleh laiki-laki lain. Ia berusaha
menyembunyikan kekurangan ayahnya agar tak menjadi gunjingan.
Suatu hari, reno jatuh cinta pada
andini. Reno adalah siswa tertampan dan kaya raya di sekolahnya. ia berpendapat
bahwa walaupun penampilan andini sederhana, tapi terlihat sangat cantik. Hingga
pada akirnya, reno benar-benar dekat dengan andini. Setap hari, ia mengantar
pulang andini walaupun tak sampai depan rumah.
Kedekatan reno dan andini berlanjut
sampai mereka memutuskan untuk berpacaran. Namun, banyak orang yang berusaha
untuk memecah belah hubunganya. Stela yang juga menyukai reno sangat jengkel
dengan status hubungan berpacaran mereka. tak hilang akal, stela berusaha menjauhkan
reno dan andini satu sama lain dan mencari kekurangan dari andini.
Suatu hari, reno dan andini berniat
untuk makan disebuah restoran sehabis pulang sekolah. Hal ini yang membuat
andini telat pulang ke rumah. Ayahnya yang sudah menunggu dari awal makin cemas
karena andini tak kunjung pulang.
Ketika hari sudah gelap, mereka baru
sampai. Andini pun tak menyangka bahwa ayahnya sudah menunggu di ujung jalan
rumahnya. Tak mengira bahwa andini pulang dengan laki-laki, ayahnya marah
besar. Ia mengira bahwa reno adalah anak nakal. Dan ia pun memarahi reno dengan
bahasa tubuh lalu mengusirnya. Andini yang takut reno mengetahui ayahnya gagu
marah besar pada apa yang dilakukan ayahnya.
Esok harinya, stela melihat andini
menangis sambil memukul-mukul westafel toilet. Andini bercermin lalu teriak
sangat keras. Stela tidak mengerti dengan apa yang dilakukan andini. Dan
berusaha mencari tau apa penyebabnya.
Suatu saat stela tak sengaja membaca
buku harian andini yang terbuka di atas meja. Di sana tertulis ‘aku benci kau,
ayah’. Ia berpikir keras atas tulisan yang ada di buku harian andini. Dan
berusaha untuk mencari tau keberadaan ayahnya andini.
Keingin tahu pada ayahnya andini,
stela memutuskan untuk datang ke sekolah lebih awal. Ketika itu ia melihat
andini yang datang diantar oleh ayahnya. Mereka terihat tak akrab di mata stela.
Wajahnya andini terlihat asam sekali, namun ayahnya selalu tersenyum. Lalu
ayahnya terlihat sedang berbicara namun dengan gerakan tubuh. Stela menduga
bahwa ayahnya gagu.
Dengan gerak cepat, stela memberi
kabar dengan apa yang ia liat soal andini pada teman-temannya. Tak lama pun,
gosip itu menyebar ke semua siswa di sekolah. Semua siswa tau bahwa andini
berasal dari keluarga miskin dan ayahnya gagu.
Bel istirahat berbunyi, andini
memutuskan untuk makan di kantin. Tetapi tak ia sangka, ada orang yang bertanya
soal ayahnya pada andini dan tak sedikit yang menggunjingnya termasuk gengnya
stela. Ia pusing bukan kepalang karena semua teman-temanya sudah tau kondisi
ayahnya yang cacat.
Hari itu bertepatan dengan hari ulang
tahun andini. Ayahnya yang sudah menunggu andini pulang, sedang bersiap diri
untuk bersikap sepeti apa untuk menyambut anak semata wayangnya. Di depan kue
ulang tahun ia berlatih gerakan tubuh untuk mengucapkan selamat bagaimana yang
bagus. Dan ia sudah meyiapkan selembar tulisan jikalau andini tak mengerti apa
yang disampaikannya.
Andini pun sampai di rumhanya. Namun
sebelum membuka pintu andini berasam muka. Ia menunjuk ayahnya sebagai faktor utama perusak
kehidupanya di sekolah. andini menyesal telah mempunyai ayah yang cacat. Karena
ayahnya pamor andini di sekolah turun drastis.
kebencian itu sampailah pada titik
meluapnya emosi andini, hingga pada akirnya ia memutuskan untuk menyilet urat
nadi tangannya. Ia merasa bahwa kehidupanya telah sirna karena ayahnya yang
cacat. Andini pun tergeletak didepan pintu rumahnya dengan penuh luka darah.
Ayahnya yang kawatir memutuskan untuk
menunggunya di ujung jalan rumah. Namun tak disangka, andini tergeletak tak
berdaya didepan pintu rumah, dengan darah berceceran. Mendengar rintiha andini,
ayahnya telihat panik di sertai rasa takut yang mendalam dan membawa andini ke
rumah sakit secepatnya.
Bercucuran air mata sang ayah dan ketakutan
atas nyawa andini tergambar di wajahnya. Sangat kawatir melihat anak semata
wayangnya yang tak sadarkan diri. Ia tak tau harus apa ketika andini berada di
dalam ruang icu. Yang ia lakukan hanyalah berdoa kepada tuhan agar diselamatkan
anak yang paing ia cintai.
Dua hari lamanya andini koma, akirnya
ia sadarkan diri. Andini terbangun
meihat ayahnya yang sedang tertidur pulas disamping kirinya. Dan melihat sebuah
kue ulang tahun bertulisan andini. Ia tak sanggup melihat kebesaran hati
ayahnya yang setia disampingnya. Andini bersyukur kepada tuhan yang maha esa
karena ia masih bisa hidup. Dan hanya bisa menangis menyesali perbuatanya.
Ingin sekali ia memeluk ayahnya. Namun tangan kananya yang sedang terimpus tak
bisa menggapai. Hanya tangan kirinya yang bisa menggapai tangan sang ayah yang
terkurai. Ia terus menatap wajah ayahnya dan bekali-kali mengucapkan kata maaf
atas semua perbuatanya.
TAMAT
*mempermainkan
sekenario kehidupan yang nyata adalah hal yang mebahayakan, ketika itu anda berdiri
atas dasar landasan yang palsu. Terimalah apa adanya yang sudah di kodratkan.
sumpah, aku jadi terharu bacanya...
BalasHapus:(