Saatnya moda transfortasi massal menjadi pilihan. Ya, baru
saja saya mendengar kabar hari ini bahwa pegguna jasa transformasi massal cepat
dan murah, kereta api rel listirik (KRL) jenis Comuter Line meningkat untuk Wilayah
Jabodetabek. Kenaikan persentase hingga 60%, dari 300.000penumpang/hari kini jumlahnya
naik hingga 500.000penumpang/hari. Hal itu disebabkan oleh kebijakan baru yang memberlakukan electronic-ticketing
(e-ticketing) atau tarif progress KRL Comuter Line.
Selain karena kebijakan baru tersebut, KRL dinilai sebagai
moda transfortasi massal yang paling murah, cepat, dan terhindar dari kemacetan.
Hal ini yang menjadi pilihan baru oleh pengguna kendaraan pribadi yang mengeluh
atas kenaikan BBM. Beberapa alasan mereka berpindah alih transfortasi
diantaranya: lebih hemat, sampai tujuan tepat waktu, dan tidak menghabiskan
banyak tenaga, waktu, dan bensin ketika terjebak kemacetan.
Dengan kenaikan jumlah penumpang, sudah semestinya Pemerintah
dan pihak PT. KAI memanfaatkan moment seperti ini agar tidak disia-siakan. Hak kelayakan
dan kenyaman bagi penumpang sudah seharusnya
diperhatikan. Seperti: jadwal yang teratur, keamanan yang di perketat, tambahan
armada kereta api, ruang menunggu yang nyaman, serta lahan parkir yang
diperbesar karena banyak pengguna kendaraan pribadi yang berpindah alih yang
menitipkan mobil atau motor mereka untuk menggunakan kereta api.
Di saat harga BBM naik, moda transfortasi umum memang pilihan
yang paling tepat. Pemerintah seharusnya peka terhadap peningkatan jumlah
penumpang kereta api saat ini. Dan memanfaatkan moment kenaikan BBM ini dengan
membenahi tranfortasi umum lainnya. Agar masyarakat tidak terlalu terbebani. Selain
bisa mengatasi kemacetan, hal ini mampu menurunkan jumlah konsumsi BBM di
masyarakat.
Pandangan saya, ‘seharusnya Pemerintah lebih fokus ke
kendaraan umum ketika mereka manaikan harga BBM, karena uang yang dikeluarkan
masyarakat lebih besar ke kendaraan pribadi mereka dalam sehari. Selain mahal,
bensin mereka akan terbuang cuma cuma karena macet. Dan bensin subsidi seharus
lebih kepada kendaraan umum (kendaraan bersama) bukan pribadi meskipun ia
miskin, karena mengingat penduduk Indonesia yang buanyak sekali terebih masih
banyak yang miskin. Sudah seperti itu yang mampu mengambil hak yang miskin pula.
Dan semestinya Pemerntah tidak selalu member ikan yang memanjakan masyarakat,
sesekali bahkan harus memberi kail untuk mencari ikan. Dalam situasi sepertinya
memamg tidak mungkin pemerintah member kail, harus ikan. Yaitu saat ini namanya
BLSM, namun banyak yang mengeluh karena salah sasaran pula.’
Hal yang membuat saya jengkel, ‘mengapa sih banyak pengguna
kendaraan pribadi ? jumlahnya semakin meningkat dan membuat kemacetan? Ya ialah,
bensin murah (sebelum bbm naik), mau kesana kesini gampang, gak perlu jalan kaki lagi. bikin sim gampang tinggal nyogok, anak di bawah
umur belum punya sim ketangkep bisa main duit sama polisi. Kenapa pemerintah
gak peka soal ini!’
Tips saya, ‘kalo memang saat ini masyarakat lebih memilih
kendaraan umum. Pemerintah harus
memanfaatkan moment ini dengan mengganti atau memperbaikin semua armada
transfortasi umum darat untuk kenyamanan penumpang. Nah di saat itu pula program
pindah alih BBM ke BBG dilakukan.’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar