Kamis, 04 Juli 2013

Saatnya Moda Transfortasi Massal Menjadi Pilihan

Saatnya moda transfortasi massal menjadi pilihan. Ya, baru saja saya mendengar kabar hari ini bahwa pegguna jasa transformasi massal cepat dan murah, kereta api rel listirik (KRL) jenis Comuter Line meningkat untuk Wilayah Jabodetabek. Kenaikan persentase hingga 60%, dari 300.000penumpang/hari kini jumlahnya naik hingga 500.000penumpang/hari. Hal itu disebabkan oleh kebijakan baru  yang memberlakukan electronic-ticketing (e-ticketing) atau tarif progress KRL Comuter Line.

Selain karena kebijakan baru tersebut, KRL dinilai sebagai moda transfortasi massal yang paling murah, cepat, dan terhindar dari kemacetan. Hal ini yang menjadi pilihan baru oleh pengguna kendaraan pribadi yang mengeluh atas kenaikan BBM. Beberapa alasan mereka berpindah alih transfortasi diantaranya: lebih hemat, sampai tujuan tepat waktu, dan tidak menghabiskan banyak tenaga, waktu, dan bensin ketika terjebak kemacetan.

Dengan kenaikan jumlah penumpang, sudah semestinya Pemerintah dan pihak PT. KAI memanfaatkan moment seperti ini agar tidak disia-siakan. Hak kelayakan dan kenyaman bagi penumpang  sudah seharusnya diperhatikan. Seperti: jadwal yang teratur, keamanan yang di perketat, tambahan armada kereta api, ruang menunggu yang nyaman, serta lahan parkir yang diperbesar karena banyak pengguna kendaraan pribadi yang berpindah alih yang menitipkan mobil atau motor mereka untuk menggunakan kereta api.

Di saat harga BBM naik, moda transfortasi umum memang pilihan yang paling tepat. Pemerintah seharusnya peka terhadap peningkatan jumlah penumpang kereta api saat ini. Dan memanfaatkan moment kenaikan BBM ini dengan membenahi tranfortasi umum lainnya. Agar masyarakat tidak terlalu terbebani. Selain bisa mengatasi kemacetan, hal ini mampu menurunkan jumlah konsumsi BBM di masyarakat.

Pandangan saya, ‘seharusnya Pemerintah lebih fokus ke kendaraan umum ketika mereka manaikan harga BBM, karena uang yang dikeluarkan masyarakat lebih besar ke kendaraan pribadi mereka dalam sehari. Selain mahal, bensin mereka akan terbuang cuma cuma karena macet. Dan bensin subsidi seharus lebih kepada kendaraan umum (kendaraan bersama) bukan pribadi meskipun ia miskin, karena mengingat penduduk Indonesia yang buanyak sekali terebih masih banyak yang miskin. Sudah seperti itu yang mampu mengambil hak yang miskin pula. Dan semestinya Pemerntah tidak selalu member ikan yang memanjakan masyarakat, sesekali bahkan harus memberi kail untuk mencari ikan. Dalam situasi sepertinya memamg tidak mungkin pemerintah member kail, harus ikan. Yaitu saat ini namanya BLSM, namun banyak yang mengeluh karena salah sasaran pula.’

Hal yang membuat saya jengkel, ‘mengapa sih banyak pengguna kendaraan pribadi ? jumlahnya semakin meningkat dan membuat kemacetan? Ya ialah, bensin murah (sebelum bbm naik), mau kesana kesini gampang, gak perlu jalan kaki lagi. bikin sim gampang tinggal nyogok, anak di bawah umur belum punya sim ketangkep bisa main duit sama polisi. Kenapa pemerintah gak peka soal ini!’


Tips saya, ‘kalo memang saat ini masyarakat lebih memilih kendaraan umum. Pemerintah harus  memanfaatkan moment ini dengan mengganti atau memperbaikin semua armada transfortasi umum darat untuk kenyamanan penumpang. Nah di saat itu pula program pindah alih BBM ke BBG dilakukan.’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar