Kamis, 27 Juni 2013

Cerpen - Andini

Tinggal lah seorang ayah dan anaknya yang bernama andini dirumah yang kecil dan sangat sederhana. Sejak sepuluh tahun lamanya di tinggal sang istri, andini adalah satu-satunya yang paling berharga di mata ayahnya. Seluruh jiwa raga dipertaruhkan si ayah untuk bisa menghidupkan, melindungi, membahagiakan  aset terakir berwujud manusia yang ia punya.
Ayahnya hanyalah penjual martabak telor. Namun, ia berusaha sekuat tenaga agar bisa menyekolahkan andini di SMA ternama. ayahnya selalu sisihkan laba usahanya untuk biaya sekolah andini. Semua itu ia lakukan semata-mata hanya ingin membuat andini bahagia.
Setiap hari andini diantar ayahnya ke sekolah dengan motor bebek tua. Ia merasa malu pada teman-temanya yang rata-rata diantar dengan mobil pribadi. Terlebih karena ayahnya mempunyai cacat fisik, si ayah gagu.
Setiap kali diantar, ia hanya mau diturunkan di ujung jalan sekolah. wajahnya yang selalu asam ketika pamit dengan ayahnya, selalu dibalas dengan senyuman. Sang ayah selalu memberikan motivasi ketika andini hendak pamit dengan bahasa tubuh. Namun, andini selalu mangacuhkan lalu meninggalkanya.
Apapun perlakuan tidak suka dari andini terhadap si ayah, ia hanya bisa berlapang dada dan berusaha mengerti apa yang andini mau. Hingga pada akirnya, andini hanya ingin diantar kesekolah, dia tak mau dijemput. Si ayah hanya bisa memaklumi. Karena pada saat dijemput, saat itu lah teman-teman andini keluar dari sekolah. Andini tak mau teman-temanya tahu tentang kondisi fisik ayahnya..
Si ayah selalu mengkawatirkan andini ketika mengetahui bahwa saat itu semestinya jam pelajaran usai dan andini pulang kerumah. Dan ia selalu menutup kiosnya lebih awal, karena ingin menyambut andini di rumah. Menyiapkan makanan lalu berdoa agar andini bisa pulang tepat waktu.
Di sekolah, andini termasuk siswi yang cantik. Banyak laki-laki yang jatuh cinta padanya. Hal ini sangat dijadikan beban andini di sekolah. Karena ia takut pamornya di sekolah turun hanya karena ayahnya yang cacat. Terlebih, banyak teman perempuan andini yang tak suka padanya karena ia begitu digemari oleh laiki-laki lain. Ia berusaha menyembunyikan kekurangan ayahnya agar tak menjadi gunjingan.
Suatu hari, reno jatuh cinta pada andini. Reno adalah siswa tertampan dan kaya raya di sekolahnya. ia berpendapat bahwa walaupun penampilan andini sederhana, tapi terlihat sangat cantik. Hingga pada akirnya, reno benar-benar dekat dengan andini. Setap hari, ia mengantar pulang andini walaupun tak sampai depan rumah.
Kedekatan reno dan andini berlanjut sampai mereka memutuskan untuk berpacaran. Namun, banyak orang yang berusaha untuk memecah belah hubunganya. Stela yang juga menyukai reno sangat jengkel dengan status hubungan berpacaran mereka. tak hilang akal, stela berusaha menjauhkan reno dan andini satu sama lain dan mencari kekurangan dari andini.
Suatu hari, reno dan andini berniat untuk makan disebuah restoran sehabis pulang sekolah. Hal ini yang membuat andini telat pulang ke rumah. Ayahnya yang sudah menunggu dari awal makin cemas karena andini tak kunjung pulang.
Ketika hari sudah gelap, mereka baru sampai. Andini pun tak menyangka bahwa ayahnya sudah menunggu di ujung jalan rumahnya. Tak mengira bahwa andini pulang dengan laki-laki, ayahnya marah besar. Ia mengira bahwa reno adalah anak nakal. Dan ia pun memarahi reno dengan bahasa tubuh lalu mengusirnya. Andini yang takut reno mengetahui ayahnya gagu marah besar pada apa yang dilakukan ayahnya.
Esok harinya, stela melihat andini menangis sambil memukul-mukul westafel toilet. Andini bercermin lalu teriak sangat keras. Stela tidak mengerti dengan apa yang dilakukan andini. Dan berusaha mencari tau apa penyebabnya.
Suatu saat stela tak sengaja membaca buku harian andini yang terbuka di atas meja. Di sana tertulis ‘aku benci kau, ayah’. Ia berpikir keras atas tulisan yang ada di buku harian andini. Dan berusaha untuk mencari tau keberadaan ayahnya andini.
Keingin tahu pada ayahnya andini, stela memutuskan untuk datang ke sekolah lebih awal. Ketika itu ia melihat andini yang datang diantar oleh ayahnya. Mereka terihat tak akrab di mata stela. Wajahnya andini terlihat asam sekali, namun ayahnya selalu tersenyum. Lalu ayahnya terlihat sedang berbicara namun dengan gerakan tubuh. Stela menduga bahwa ayahnya gagu.
Dengan gerak cepat, stela memberi kabar dengan apa yang ia liat soal andini pada teman-temannya. Tak lama pun, gosip itu menyebar ke semua siswa di sekolah. Semua siswa tau bahwa andini berasal dari keluarga miskin dan ayahnya gagu.
Bel istirahat berbunyi, andini memutuskan untuk makan di kantin. Tetapi tak ia sangka, ada orang yang bertanya soal ayahnya pada andini dan tak sedikit yang menggunjingnya termasuk gengnya stela. Ia pusing bukan kepalang karena semua teman-temanya sudah tau kondisi ayahnya yang cacat.
Hari itu bertepatan dengan hari ulang tahun andini. Ayahnya yang sudah menunggu andini pulang, sedang bersiap diri untuk bersikap sepeti apa untuk menyambut anak semata wayangnya. Di depan kue ulang tahun ia berlatih gerakan tubuh untuk mengucapkan selamat bagaimana yang bagus. Dan ia sudah meyiapkan selembar tulisan jikalau andini tak mengerti apa yang disampaikannya.
Andini pun sampai di rumhanya. Namun sebelum membuka pintu andini berasam muka. Ia  menunjuk ayahnya sebagai faktor utama perusak kehidupanya di sekolah. andini menyesal telah mempunyai ayah yang cacat. Karena ayahnya pamor andini di sekolah turun drastis.
kebencian itu sampailah pada titik meluapnya emosi andini, hingga pada akirnya ia memutuskan untuk menyilet urat nadi tangannya. Ia merasa bahwa kehidupanya telah sirna karena ayahnya yang cacat. Andini pun tergeletak didepan pintu rumahnya dengan penuh luka darah.
Ayahnya yang kawatir memutuskan untuk menunggunya di ujung jalan rumah. Namun tak disangka, andini tergeletak tak berdaya didepan pintu rumah, dengan darah berceceran. Mendengar rintiha andini, ayahnya telihat panik di sertai rasa takut yang mendalam dan membawa andini ke rumah sakit secepatnya.
Bercucuran air mata sang ayah dan ketakutan atas nyawa andini tergambar di wajahnya. Sangat kawatir melihat anak semata wayangnya yang tak sadarkan diri. Ia tak tau harus apa ketika andini berada di dalam ruang icu. Yang ia lakukan hanyalah berdoa kepada tuhan agar diselamatkan anak yang paing ia cintai.
Dua hari lamanya andini koma, akirnya ia sadarkan diri.  Andini terbangun meihat ayahnya yang sedang tertidur pulas disamping kirinya. Dan melihat sebuah kue ulang tahun bertulisan andini. Ia tak sanggup melihat kebesaran hati ayahnya yang setia disampingnya. Andini bersyukur kepada tuhan yang maha esa karena ia masih bisa hidup. Dan hanya bisa menangis menyesali perbuatanya. Ingin sekali ia memeluk ayahnya. Namun tangan kananya yang sedang terimpus tak bisa menggapai. Hanya tangan kirinya yang bisa menggapai tangan sang ayah yang terkurai. Ia terus menatap wajah ayahnya dan bekali-kali mengucapkan kata maaf atas semua perbuatanya.

TAMAT
            *mempermainkan sekenario kehidupan yang nyata adalah hal yang mebahayakan, ketika itu anda berdiri atas dasar landasan yang palsu. Terimalah apa adanya yang sudah di kodratkan.




1 komentar: